Motor Bensin Mau Disulap Jadi Listrik, Industri Sudah Siap—Tapi Target Pemerintahnya Kapan Digas?
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Industri sepeda motor listrik mulai “angkat tangan siap kerja” mendukung program konversi motor bensin ke listrik. Tapi di balik semangat itu, ada satu hal yang masih bikin pelaku usaha garuk-garuk kepala: target dari pemerintah belum jelas.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setiyadi, memastikan pihaknya sudah lebih dulu ngebut kirim sinyal kesiapan. Industri, kata dia, bukan cuma wacana—pemainnya sudah ada, bahkan ada yang memang “lahir khusus” buat bisnis konversi motor listrik.
“Dari AISMOLI, kami sudah bersurat. Intinya, kami siap jadi partner pemerintah,” ujar Budi.
Konsepnya sebenarnya simpel dan cukup “ramah nostalgia”: motor lama tidak dibuang, cukup “ganti jantung.” Mesin bensin dicopot, diganti motor listrik. Hasilnya? Motor tetap sama, tapi suaranya jadi lebih halus—dompet pun bisa ikut lega kalau biaya operasional turun.
Jaringan bengkel konversi pun diam-diam sudah tumbuh. Tidak hanya di dalam negeri, bahkan ada yang sudah merambah sampai Vietnam. Jadi, kalau ada yang masih mengira ini proyek masa depan, faktanya industri sudah mulai jalan duluan.
Meski begitu, ada tantangan yang belum bisa dihindari. Untuk pelaku usaha skala kecil, ketergantungan pada komponen impor—terutama mesin listrik—masih cukup tinggi. Artinya, mimpi “100 persen lokal” masih butuh waktu dan dorongan serius.
Di sisi lain, urusan legalitas juga belum bisa dianggap enteng. Bengkel konversi wajib mengantongi izin resmi, termasuk dari Kementerian Perhubungan, agar kendaraan hasil konversi bisa mendapatkan SRUT dan lanjut ke STNK. Tanpa itu, motor listrik hasil konversi bisa jalan, tapi “statusnya belum sah di mata negara.”
Nah, di sinilah poin krusialnya: industri sudah siap, bengkel sudah ada, teknologinya juga bukan mimpi. Tinggal satu yang ditunggu—“aba-aba” dari pemerintah.
“Kalau targetnya jelas, kami bisa hitung kapasitas. Mau berapa unit per tahun, per bulan, semua bisa dikonsolidasikan,” kata Budi.
Ke depan, kolaborasi antara pabrikan besar dan pelaku konversi disebut akan jadi kunci. Bahkan, beberapa pabrikan sudah mulai melirik skema bisnis konversi ini.
Singkatnya, rakyat tidak perlu khawatir: motor lama tidak harus jadi rongsokan. Bisa “naik kelas” jadi listrik. Industri juga tidak diam—mereka sudah pemanasan.
Sekarang tinggal pemerintah meniup peluitnya. Karena kalau semua sudah siap tapi belum jalan, rasanya seperti motor sudah distarter… tapi belum masuk gigi.
(AnT) (gambar ai)








