Tesla Jadi Sasaran Amuk Massa di Eropa: Dealer Dibakar, Mobil Dirusak, Semua Gara-gara Elon Musk ‘Masuk’ ke Tim Trump
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Belakangan ini, protes terhadap Elon Musk meluber dari timeline ke realita—berujung pada aksi vandalisme dan pembakaran dealer Tesla di beberapa kota Eropa. Netizen yang awalnya hanya berkoar di media sosial kini turun tangan, dan kerusakan yang ditinggalkan tak main-main.
Jerman – Ottersberg Terbakar
Akhir pekan lalu, sebuah dealer Tesla di Ottersberg jadi lautan api. Tujuh unit mobil hangus terbakar, meninggalkan rangka besi yang meleleh. Warga setempat terhenyak, saksi mata menggambarkan kobaran api yang menjilat hingga atap showroom.
Swedia – Cat Oranye Menyemprot Dua Dealer
Beberapa hari berselang, Stockholm dan Malmö diserang cat oranye. Dealer Tesla yang biasanya bersih dan minimalis tiba-tiba dipenuhi coretan provokatif. Cat mengotori kaca, menutupi logo, dan menyebar pesan penolakan terhadap Musk.
Italia – 17 Tesla Hangus di Roma
Puncaknya terjadi di Roma: 17 mobil terbakar sekaligus dalam satu malam. Polisi anti-teror langsung turun tangan, sementara Menteri Dalam Negeri Italia memerintahkan pengamanan ekstra di semua dealer Tesla. Kota abadi itu mendadak jadi ladang puing-puing dan asap hitam.
“Ini bukan sekadar vandalisme—ini terorisme,” tegas Elon Musk lewat akun resmi X, menuding aksi pembakaran di Roma sebagai serangan terencana.
Kemarahan ini dipicu kabar Musk resmi bergabung dengan pemerintahan Donald Trump sebagai penasihat ‘Department of Government Efficiency’. Bagi banyak warganet, keputusan itu bak pisau yang menusuk citra Tesla—dari mobil ramah lingkungan jadi simbol polarisasi politik.
Dari Protes Damai ke Aksi Ekstrem
Sebelumnya, gerakan boikot Tesla di AS dan Eropa kebanyakan berjalan damai: tagar, petisi online, unjuk rasa. Namun ketika sentimen berubah jadi kemarahan fisik, dealer dan mobil Tesla jadi sasaran empuk. Pembakaran, coretan cat, perusakan—semua bukti betapa cepat emosi digital bisa merembet ke aksi nyata.
Apa Selanjutnya?
Apakah serangan ini akan berhenti, atau justru memicu gelombang balasan dari pendukung Musk? Satu hal jelas: Tesla kini tak cuma merek mobil listrik, tapi juga magnet konflik politik dan budaya pop. Dealer-dealer di Eropa kini terancam jadi medan tempur baru di persimpangan teknologi, bisnis, dan politik global.
—
Ingin terus update berita otomotif dan drama netizen? Jangan sampai ketinggalan!
(AnT) (foto: twitter)









