Subaru Tinggalkan Mesin Boxer di Eropa, Kini Bikin Mobil Listrik 510 HP yang Ngebut 0–100 Km/Jam Kurang dari 4 Detik
MOTORLISTRIK.COM, JAKARTA — Subaru mulai membuka babak baru! Merek otomotif asal Jepang yang terkenal dengan mesin boxer dan sistem penggerak semua roda atau all-wheel drive (AWD) itu kini mengembangkan mobil listrik berteknologi sendiri. Tenaganya bikin melongo, mencapai 510 horsepower (hp), dengan akselerasi 0–100 km/jam kurang dari empat detik!
Kalau biasanya mendengar Subaru, yang terbayang adalah mesin boxer yang suaranya khas, kini ceritanya mulai berubah. Mesin bensin yang selama ini menjadi identitas Subaru perlahan tersingkir dari pasar Eropa. Sebagai gantinya, mobil listrik mulai mengambil alih panggung.
Prototipe mobil listrik terbaru Subaru diperkenalkan di pusat riset perusahaan di Sano, Jepang, pada 18 Oktober. Mobil uji tersebut dibangun menggunakan platform kendaraan listrik yang dikembangkan Subaru sendiri, bukan sekadar mengambil basis mobil listrik Toyota seperti sejumlah model sebelumnya.
Tenaganya mencapai 510 hp dan disalurkan ke keempat roda. Akselerasi dari diam hingga 100 km/jam diklaim kurang dari empat detik.
Bahasa gampangnya, baru bilang, “Pegangan, Bos!” eh, mobilnya sudah hampir meninggalkan lampu merah. Tentu saja, kemampuan ini masih berdasarkan klaim untuk prototipe, bukan hasil pengujian independen.
Mesin Boxer Minggir, Mobil Listrik Mulai Ambil Alih
Perubahan besar juga terjadi di Eropa. Subaru berencana menghentikan penjualan mobil bermesin pembakaran di kawasan tersebut setelah akhir 2027.
Sejumlah model listrik Subaru di Eropa menggunakan platform yang dikembangkan bersama Toyota. Solterra berhubungan dengan Toyota bZ4X, E-Outback dengan bZ4X Touring, sedangkan Uncharted memiliki hubungan dengan Toyota C-HR+.
Subaru juga mengembangkan SUV listrik tujuh penumpang bernama Getaway bersama Toyota.
Namun, prototipe terbaru ini menjadi sinyal bahwa Subaru ingin kembali memegang kendali lebih besar atas teknologi mobil listriknya sendiri.
Jadi, bukan berarti Subaru langsung putus hubungan dengan Toyota. Kerja sama masih berjalan, tetapi Subaru ingin punya lebih banyak racikan sendiri.
Ibarat masak bareng teman, selama ini bahan dan resep banyak dibantu tetangga. Sekarang Subaru mulai membawa resep sendiri, meskipun beberapa bahan masih beli dari pemasok yang sama.
Bobot Dipangkas 100 Kg, Baterai Diklaim Lebih Ringan
Bukan cuma soal tenaga. Subaru juga mengincar bobot kendaraan yang lebih ringan.
Arsitektur baru tersebut ditargetkan mengurangi bobot sekitar 100 kilogram dibandingkan mobil listrik Subaru yang diproduksi saat ini. Pengurangan bobot penting untuk membantu efisiensi, pengendalian, dan performa kendaraan.
Baterainya menggunakan sekitar 4.000 sel silinder dari Panasonic Energy. Subaru mengklaim paket baterai itu 25 persen lebih ringan dibandingkan paket sebelumnya, sekaligus menargetkan kepadatan energi 20 persen di atas rata-rata industri.
Motor penggeraknya dipasok Aisin, perusahaan yang juga berada dalam ekosistem pemasok Toyota Group.
Sayangnya, Subaru belum mengungkap kapasitas baterai, jarak tempuh, dan kecepatan pengisian daya. Padahal, tiga hal itulah yang biasanya langsung ditanyakan calon pembeli.
Tenaga 510 hp memang bikin mata berbinar. Namun, kalau jarak tempuhnya belum jelas, calon pembeli tentu masih harus menunggu sebelum ikut-ikutan menginjak pedal gas.
Bukan Cuma Kencang, Teknologi Keselamatan Ikut Digarap
Subaru juga mengembangkan struktur keselamatan baru untuk kendaraan listrik tersebut.
Struktur di sekitar roda depan dirancang untuk membantu menyebarkan gaya benturan ketika terjadi tabrakan. Motor depan juga dirancang agar dapat berputar saat benturan untuk membantu menyerap energi, bukan mendorong energi tabrakan ke arah kabin atau baterai.
Di sisi elektronik, Subaru tengah mengembangkan unit kontrol terintegrasi yang mengatur berbagai sistem kendaraan, mulai dari bantuan pengemudi, rangka, sistem penggerak, hingga hiburan.
Sistem tersebut dikembangkan bersama AMD dan direncanakan mendukung pembaruan perangkat lunak melalui udara atau over-the-air (OTA). Teknologi ini juga dipersiapkan untuk mendukung pengembangan fitur kecerdasan buatan pada sistem bantuan pengemudi EyeSight.
Subaru menyatakan pendekatan pengembangan baru ini dapat memangkas waktu pengembangan kendaraan sekitar 40 persen.
Artinya, urusan mobil masa depan bukan lagi sekadar siapa paling kencang, tetapi juga siapa yang paling pintar mengatur teknologi dan menjaga keselamatan penumpangnya.
Target 600 Ribu Mobil Listrik, tetapi Kapan Dijual?
Pada 2023, Subaru menetapkan target penjualan mobil listrik berbasis baterai sebanyak 600.000 unit per tahun pada 2030. Target tersebut didukung rencana investasi elektrifikasi sebesar 1,5 triliun yen.
Namun, rencana itu kemudian ditinjau ulang. Pada November 2025, Subaru dilaporkan telah menghabiskan sekitar 300 miliar yen dan mengevaluasi sisa investasi sekitar 1,2 triliun yen. Perusahaan juga mempertimbangkan penundaan empat model listrik yang sebelumnya direncanakan meluncur pada 2028.
Prototipe terbaru ini menjadi bagian penting dari upaya Subaru membangun teknologi listriknya sendiri. Meski begitu, perusahaan belum mengumumkan nama model produksi maupun tanggal peluncurannya.
Japan Mobility Show 2027 berpotensi menjadi panggung penting untuk melihat arah pengembangan berikutnya. Namun, kehadiran model produksi dan jadwal penjualannya masih harus menunggu pengumuman resmi.
Jadi, jangan buru-buru datang ke dealer sambil membawa koper berisi uang. Mobil listrik Subaru 510 hp ini belum diumumkan sebagai produk yang siap dibeli.
Untuk sekarang, satu hal sudah jelas: Subaru sedang berusaha membuktikan bahwa meskipun mesin boxer mulai meninggalkan Eropa, karakter penggerak semua roda dan teknologi keselamatannya tetap ingin dipertahankan.
Mesinnya boleh berubah, tetapi Subaru tak mau identitasnya ikut kehilangan tenaga!
(ant) (foto subaru)








