Skuter Listrik Mungil Bergaya Unik! Bisa Ngebut 45 Km/Jam, Versi Eropa Masih Misteri
MOTORLISTRIK.COM, JAKARTA – Sobat Molis…… Bro, Sis, ada skuter listrik baru yang tampilannya nggak biasa! Namanya Naxeon CC3. Bodinya mungil, lampunya bulat kayak mata robot, bannya bergaya semi-adventure, dan desainnya bikin orang yang lihat mungkin bertanya, ini skuter listrik apa kapsul luar angkasa nyasar ke jalan raya?
Produsen kendaraan listrik asal China, Naxeon, mulai memamerkan CC3 lewat Instagram dan Facebook. Namun, jangan buru-buru ke dealer, ya! Skuter ini memang sudah dijual di China dan ditawarkan untuk pre-order di Bangladesh, tetapi jadwal peluncuran untuk pasar Eropa masih belum diumumkan.
Lalu, apa yang bikin CC3 menarik?
Desainnya disebut Capsule Cross, dengan panel bodi membulat, lampu depan LED berbentuk cincin, suspensi belakang terbuka, dan buritan pendek. Pokoknya, tampilannya beda dari skuter harian yang biasanya lewat di jalan.
Di China, CC3 punya panjang 1.749 milimeter, bobot 95 kilogram, dan tinggi jok 750 milimeter. Menurut Naxeon, dimensinya dirancang untuk pengendara dengan tinggi badan sekitar 155 sampai 180 sentimeter.
Jadi, buat yang badannya nggak setinggi pemain basket, masih ada peluang nyaman duduk di atasnya. Tapi ingat, cocok atau nggaknya tetap harus dicoba langsung. Jangan cuma cocok di foto, pas dinaiki malah berasa naik odong-odong futuristis!
Sekarang kita bahas tenaga dan baterainya!
Naxeon CC3 menggunakan motor listrik hub 60 volt dengan daya nominal 1.200 watt dan daya puncak 1.700 watt. Kecepatan maksimumnya di versi China mencapai 45 kilometer per jam.
Ada dua pilihan, yaitu CC3 dan CC3 Max. Keduanya menggunakan baterai timbal-asam di pasar China, bukan baterai lithium-ion.
CC3 dibekali baterai 60 volt 20 ampere-jam, dengan jarak tempuh sekitar 50 kilometer untuk penggunaan campuran. Kalau melaju konstan pada kecepatan 25 kilometer per jam, jaraknya diklaim bisa mencapai 75 kilometer.
Sementara CC3 Max membawa baterai lebih besar, 60 volt 32 ampere-jam. Jarak tempuhnya diklaim mencapai 75 kilometer untuk penggunaan campuran dan sekitar 100 kilometer pada kecepatan konstan 25 kilometer per jam.
Artinya, pilih CC3 buat mobilitas harian, atau CC3 Max kalau ingin jarak tempuh lebih panjang. Tapi jangan lupa, angka jarak tempuh bisa berubah tergantung bobot pengendara, kondisi jalan, kecepatan, dan gaya berkendara.
Nah, yang bikin tambah penasaran, versi Bangladesh beda cerita!
Di Bangladesh, CC3 ditawarkan dengan baterai lithium-ion dan kecepatan maksimum yang disebut mencapai 60 kilometer per jam. Jarak tempuh CC3 diklaim sekitar 65 sampai 70 kilometer, sedangkan CC3 Max sekitar 70 sampai 80 kilometer dengan baterai yang bisa dilepas.
Harganya tercatat 98.000 taka untuk CC3 dan 120.000 taka untuk CC3 Max.
Kalau dikonversi ke rupiah, nilainya bergantung pada kurs yang berlaku. Jadi, jangan langsung menyimpulkan harga tersebut bakal sama kalau nanti masuk Indonesia.
Bahkan, spesifikasi CC3 Max versi Bangladesh mencantumkan bobot 51 kilogram tanpa baterai. Angka ini jauh berbeda dari bobot kosong 95 kilogram pada CC3 versi China. Dimensi dan konfigurasi kedua versi juga tidak sepenuhnya sama.
Kesimpulannya, jangan sampai melihat nama modelnya sama, lalu mengira isi dan kemampuannya pasti identik. Pasar berbeda, spesifikasi bisa berbeda pula!
Fitur digitalnya juga bukan kaleng-kaleng!
Naxeon CC3 menawarkan konektivitas Bluetooth, aplikasi smartphone, pembaruan perangkat lunak melalui udara atau over-the-air, pelacakan GNSS, serta sistem anti-pencurian.
Skuter ini juga mencantumkan fitur pembukaan kunci menggunakan smartphone dan NFC. Untuk membantu pengendara, tersedia beberapa mode berkendara, mode kecepatan rendah yang disebut snail mode, pengereman regeneratif, cruise control, bantuan saat menanjak, dan kontrol ketika menuruni bukit.
Jadi, bukan cuma lampu depan yang bergaya robot. Fitur elektroniknya juga dirancang untuk mendukung aktivitas berkendara sehari-hari.
Lantas, kapan masuk Eropa?
Sampai informasi yang tersedia saat ini, Naxeon belum mengumumkan harga, spesifikasi final, maupun tanggal peluncuran CC3 di Eropa.
Perusahaan memang mencantumkan kantor Eropa di Prancis, Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda. Namun, belum diketahui apakah versi Eropa akan mengikuti spesifikasi China dengan kecepatan maksimum 45 kilometer per jam, atau memakai konfigurasi baterai lithium-ion seperti versi Bangladesh.
Jadi, untuk sekarang, CC3 masih bikin penasaran. Bentuknya sudah nongol di media sosial, tetapi nasib spesifikasi Eropanya masih menunggu pengumuman resmi.
Bro dan Sis, kalau skuter listrik sekecil ini masuk Indonesia, kalian pilih mana: CC3 yang simpel atau CC3 Max dengan baterai lebih besar?
Yang penting, jangan sampai bodinya mungil, tetapi ekspektasi jarak tempuhnya sampai Jakarta–Surabaya tanpa berhenti ngecas!
(ant) (foto Naxeon)








