Anak 90-an Merinding: Peugeot 103 Bangkit dari Kubur, Lebih Senyap, Asap Hilang Diganti Watt
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Sobat Molis….. Kalau kamu pikir Peugeot cuma jago bikin mobil Eropa yang wangi parfum Prancis, siap-siap terkejut. Peugeot 103, moped legendaris yang dulu wara-wiri di jalanan Eropa era 70–90an, resmi dibangkitkan kembali. Tapi kali ini bukan dengan suara mesin dua tak yang berisik, melainkan senyap, bersih, dan… pakai listrik.
Yes, ini bukan mimpi masa kecil atau efek nostalgia berlebihan. Peugeot Motocycles benar-benar menghidupkan kembali 103 sebagai motor listrik modern, siap meluncur di kota-kota Eropa mulai 2026.
Dari Bau Oli ke Bau Masa Depan
Peugeot 103 dulunya adalah simbol kebebasan remaja Eropa: ringan, simpel, dan gampang dimodif. Kini, spirit itu tetap dipertahankan, hanya saja knalpot diganti colokan.
Desainnya masih setia pada DNA klasik—rangka ramping, siluet ikonik, aura retro kuat—tapi dibumbui sentuhan kekinian seperti lampu LED, teknologi digital, dan baterai yang bisa dicopot. Jadi kalau dulu isi bensin di pom, sekarang cukup angkat baterai, colok di rumah, sambil ngopi.
Tenang, Bukan Cuma Pajangan Retro
Meski tampil kalem, Peugeot 103 listrik ini bukan sekadar motor lucu buat gaya-gayaan. Peugeot menyiapkan dua varian:
- Versi setara 50 cc, cocok buat komuter santai di kota
- Versi setara 125 cc, buat yang pengen sedikit lebih “gas dikit nggak apa-apa”
Jarak tempuhnya disesuaikan untuk kebutuhan harian, dengan kecepatan maksimal yang cukup buat lalu lintas urban. Intinya: bukan buat balapan, tapi cukup buat nyelip elegan di kemacetan.
Murah, Gaya, dan Penuh Nostalgia
Kabar baiknya, motor listrik ini diproyeksikan punya harga relatif terjangkau, sekitar €3.000-an. Artinya, Peugeot ingin 103 listrik ini jadi kendaraan rakyat versi modern, bukan mainan mahal kolektor.
Target pasarnya jelas: anak muda kota, komuter harian, pecinta desain retro, sampai mereka yang pengen motor listrik tapi tetap punya “jiwa”.
Nostalgia yang Relevan
Kebangkitan Peugeot 103 membuktikan satu hal: nostalgia itu kuat, tapi harus relevan. Peugeot paham, masa depan mobilitas bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal emosi, cerita, dan kenangan.
Dulu 103 adalah simbol kebebasan generasi lama. Sekarang, ia kembali untuk generasi baru—lebih senyap, lebih bersih, dan jelas lebih ramah lingkungan.
Singkatnya, Peugeot 103 tidak sekadar hidup lagi—ia bereinkarnasi. Dari legenda jalanan menjadi ikon listrik urban. Tinggal satu pertanyaan:
kalau masuk Indonesia, siap nggak kita jatuh cinta lagi?
(Anton) (Crédit photo © Paris Select Book)









