Limbah Nikel Disulap Jadi Bahan Baku Baterai Mobil Listrik, BRIN Siapkan Teknologi untuk Industri
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Sobat Molis….Limbah padat hasil pengolahan bijih nikel yang selama ini hanya menjadi residu kini berpeluang berubah menjadi bahan baku bernilai tinggi untuk industri baterai dan kendaraan listrik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan teknologi yang mampu mengolah limbah tersebut menjadi besi oksalat dihidrat (iron oxalate dihydrate), senyawa yang memiliki berbagai aplikasi di sektor industri.
Inovasi tersebut dipaparkan Peneliti Pusat Riset Metalurgi BRIN, Tri Arini, dalam forum BRIN Goes to Industry Chapter 5 bertema “Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan” di Jakarta.
Tri Arini menjelaskan, riset berawal dari pengamatan bahwa limbah pengolahan bijih nikel masih mengandung besi dalam jumlah yang cukup besar. Kandungan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Dari limbah tersebut kami melihat masih terdapat sumber besi yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, kami melakukan riset untuk menghasilkan produk berbasis besi yang memiliki nilai tambah,” ujar Tri.
Dalam proses pengembangannya, BRIN memanfaatkan energi cahaya untuk mengubah kandungan besi pada limbah menjadi besi oksalat dihidrat. Metode tersebut dinilai lebih sederhana karena tidak memerlukan bahan tambahan lain, sekaligus berpotensi lebih ramah lingkungan dibandingkan proses konvensional.
Menurut Tri, besi oksalat dihidrat hasil pengolahan limbah nikel memiliki prospek luas di berbagai sektor industri. Salah satu potensi terbesarnya adalah sebagai bahan awal pembuatan material lithium iron phosphate (LFP), yang menjadi komponen utama katoda baterai kendaraan listrik.
Selain untuk industri baterai, senyawa tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku katalis dan fotokatalis, pigmen dan keramik, pengolahan air, hingga pengelolaan limbah.
Meski demikian, teknologi tersebut masih berada pada tahap skala laboratorium. Selama sekitar satu tahun terakhir, BRIN telah melakukan berbagai pengujian untuk aplikasi baterai dan kini tengah menyiapkan tahapan peningkatan kapasitas produksi agar sesuai dengan kebutuhan industri.
“Ke depan kami berharap teknologi ini dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dan dapat diintegrasikan dengan industri,” kata Tri.
Pengembangan teknologi ini dinilai memberikan dua manfaat sekaligus. Dari sisi lingkungan, limbah padat hasil pengolahan nikel dapat dimanfaatkan kembali sehingga mengurangi timbunan residu pertambangan. Sementara dari sisi ekonomi, Indonesia berpeluang memperoleh sumber bahan baku dalam negeri untuk mendukung industri baterai yang terus berkembang.
Jika berhasil dikomersialisasikan, teknologi tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor besi oksalat sekaligus memperkuat ekosistem hilirisasi mineral nasional yang tengah didorong pemerintah. Melalui program BRIN Goes to Industry, hasil-hasil riset diharapkan dapat dipertemukan dengan kebutuhan dunia usaha sehingga mampu menghasilkan inovasi yang siap diadopsi oleh sektor industri.
(AnT)








