Motor Listrik Mulai Berkembang di Afrika
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Sobat Molis…… Motor listrik China masuk Afrika! Tapi kali ini bukan cuma jualan motor.
Bayangin…
Yadea, raksasa motor listrik China, ketemu Spiro, pemain kendaraan listrik Afrika.
Yang satu punya pabrik dan pengalaman bikin motor dalam jumlah gede.
Yang satu punya jaringan tukar baterai yang bikin motor nggak kelamaan nongkrong.
Mereka resmi kerja sama untuk mengembangkan kendaraan listrik roda dua khusus pasar Afrika.
Dan ini bukan proyek…
“Coba satu motor dulu, kalau laku bikin lagi.”
Bukan, Bos!
Spiro mengklaim sudah punya lebih dari 130 ribu motor listrik yang beroperasi di tujuh negara Afrika.
Stasiun tukar baterainya?
Lebih dari 2.500 titik!
Pertukaran baterainya bahkan sudah tembus 50 juta kali, dengan total perjalanan lebih dari 2 miliar kilometer.
Jadi kalau baterai habis…
Nggak perlu motor diparkir sambil menunggu sampai ubanan.
Datang ke stasiun…
Baterai kosong dicopot, baterai penuh dipasang, gas lagi!
Pendiri Spiro sekaligus Chairman Equitane, Gagan Gupta, mengatakan kerja sama dengan Yadea menjadi langkah penting untuk mendorong era baru mobilitas listrik di pasar berkembang.
Menurut Gupta, saat Spiro diluncurkan, misi perusahaan adalah membangun fondasi energi dan mobilitas untuk transisi hijau Afrika.
Dan menurut dia, kerja sama dengan Yadea menjadi pengakuan penting terhadap apa yang sudah dibangun Spiro sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan mobilitas listrik generasi berikutnya.
Sementara CEO Spiro Anant Badjatya bilang…
“Afrika sedang mempercepat peralihan ke mobilitas listrik.”
Nah, ini yang menarik.
Menurut Badjatya, dengan menggabungkan kekuatan manufaktur Yadea dengan ekosistem kendaraan listrik dan pengalaman operasional Spiro di Afrika, mereka ingin mempercepat transportasi bersih dan membuat lebih banyak pengendara bisa beralih ke kendaraan listrik dengan harga yang terjangkau.
Bahasa gampangnya…
Yadea bikin motornya.
Spiro bikin baterainya nggak bikin pengendara stres.
Bahkan keduanya tidak sekadar menggunakan produk yang sudah ada.
Yadea dan Spiro akan bersama-sama mengembangkan motor listrik yang disesuaikan dengan kondisi jalan dan kebutuhan penggunaan komersial di Afrika.
Karena motor di sana bakal dipakai untuk macam-macam.
Ojek…
Kurir…
Logistik…
Sampai pengendara yang tiap hari jaraknya bukan lagi “keliling komplek”, tapi keliling negara.
Nah, dari sisi Yadea, skalanya juga bukan main-main.
Yadea menyebut sudah menjual lebih dari 100 juta kendaraan roda dua listrik di lebih dari 100 negara.
Perusahaan ini juga punya 10 fasilitas produksi dan jaringan ritel lebih dari 40 ribu toko.
Senior Vice President Yadea Technology Group Wang Jiazhong mengatakan Afrika merupakan pasar besar untuk transportasi tanpa emisi.
Menurut Wang, kerja sama dengan Spiro menjadi tonggak penting karena kedua perusahaan menggabungkan inovasi global dengan infrastruktur lokal untuk menghadirkan solusi mobilitas listrik yang bisa diperluas dan berkelanjutan.
Jadi…
Kalau biasanya motor bensin bilang:
“Bang, isi bensin dulu.”
Motor listrik versi Spiro kira-kira bilang:
“Bang, tukar baterai dulu. Lima menit kelar.”
Spiro sendiri baru menutup pendanaan terbaru hingga 270 juta dolar AS, yang digunakan untuk memperluas jaringan battery swapping, manufaktur, dan kendaraan listrik di Afrika.
Dan yang paling menarik…
Spiro bukan cuma punya motor.
Mereka juga punya fasilitas perakitan di Uganda, Kenya, Nigeria, dan Rwanda.
Jadi arahnya bukan sekadar:
motor China dikirim ke Afrika.
Tapi mulai masuk ke cerita:
teknologi global, jaringan Afrika, kendaraan yang disesuaikan untuk kebutuhan lokal.
Kalau kerja sama Yadea dan Spiro ini berhasil…
Bisa jadi masa depan motor listrik Afrika bukan lagi soal:
“Bisa jalan nggak?”
Tapi:
“Baterainya tinggal tukar di mana, Bos?”
Karena buat pengemudi yang cari uang dari motor…
Motor boleh listrik.
Teknologi boleh canggih.
Tapi satu syarat:
jangan sampai baterainya habis pas orderan lagi rame!
(Ant) (foto yadea Spiro)








