Mobil Listrik Bekas di RI Sepi Peminat, Eh di Australia Malah Diburu Gara-Gara BBM Mahal
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Sobat Molis…. Mobil listrik di Indonesia sedang naik daun. Ibarat artis baru, namanya mulai sering disebut dan makin banyak yang melirik. Tapi begitu masuk pasar bekas, ceritanya beda. Masih sepi, bahkan bisa dibilang belum jadi primadona.
Di pasar mobil bekas nasional, porsi mobil listrik masih sangat kecil, hanya sekitar 1 persen. Ibarat nasi goreng, dia masih jadi kerupuknya, bukan menu utama. Jumlah unit yang dijual juga belum banyak karena mobil listrik baru populer dalam 2–3 tahun terakhir.
Padahal dari sisi harga, mobil listrik bekas cukup menggoda. Penurunannya bisa 15–25 persen dari harga baru dalam waktu singkat, bahkan dalam beberapa tahun bisa turun hingga 50 persen. Contohnya, Wuling Air EV kini berada di kisaran Rp100–230 juta, sementara Hyundai Ioniq 5 dijual sekitar Rp550–700 juta.
Namun, harga miring ini belum cukup untuk bikin pasar ramai. Salah satu penyebab utamanya adalah kekhawatiran soal baterai. Komponen ini bisa menyumbang hingga 30–40 persen dari harga mobil, dan performanya bisa menurun seiring waktu. Banyak calon pembeli masih dihantui pertanyaan klasik: kuat berapa lama, mahal tidak gantinya, dan garansi masih ada atau tidak.
Masalah lain datang dari sisi pembiayaan. Hingga saat ini, banyak perusahaan leasing belum menyediakan kredit untuk mobil listrik bekas. Padahal, mayoritas pembeli mobil bekas di Indonesia mengandalkan cicilan. Akibatnya, pasar jadi makin sempit.
Selain itu, masyarakat Indonesia masih cenderung setia pada mobil bensin. Alasannya sederhana: lebih familiar, bengkel banyak, dan harga jual kembali lebih stabil. Sementara mobil listrik masih dianggap “barang baru” yang bikin orang berpikir dua kali.
Di sisi lain, dealer juga tidak sepenuhnya nyaman. Harga mobil listrik bisa turun cepat karena perkembangan teknologi. Hari ini beli, besok muncul model baru, yang lama langsung terasa ketinggalan zaman.
Meski begitu, kondisi ini bukan berarti tanpa harapan. Jumlah mobil listrik baru yang terus meningkat akan ikut mendorong pasar bekas ke depan. Harga yang makin terjangkau juga bisa menarik pembeli baru. Infrastruktur pengisian daya pun terus berkembang, didukung kebijakan pemerintah.
Fenomena berbeda justru terjadi di Australia. Saat negara tersebut dilanda krisis bahan bakar pada 2026, harga mobil listrik bekas malah naik. Dalam kondisi normal, harga mobil bekas biasanya turun, tapi kali ini justru berbalik arah.
Krisis energi global membuat harga bensin melonjak tajam, sehingga biaya penggunaan mobil konvensional menjadi mahal. Akibatnya, masyarakat berbondong-bondong beralih ke mobil listrik yang dinilai lebih hemat.
Permintaan yang melonjak membuat harga mobil listrik bekas naik lebih dari 6 persen dalam waktu singkat. Penjualan juga meningkat hingga beberapa kali lipat, sementara pencarian kendaraan listrik di platform online ikut melonjak.
Fenomena ini menunjukkan perubahan perilaku konsumen. Jika sebelumnya orang takut kehabisan baterai, kini justru lebih takut harga bensin yang terus naik. Dari yang tadinya “range anxiety”, berubah jadi “dompet anxiety”.
Kenaikan harga mobil listrik bekas di Australia juga dipicu keterbatasan unit di pasar. Permintaan tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan barang, sehingga harga terdorong naik.
Kondisi ini menjadi gambaran bahwa dalam situasi tertentu, mobil listrik bisa berubah dari sekadar alternatif menjadi kebutuhan utama. Terutama saat biaya energi konvensional melonjak.
Belajar dari Australia, bukan tidak mungkin pasar mobil listrik bekas di Indonesia juga akan ikut bergerak jika terjadi kondisi serupa. Untuk saat ini, memang masih sepi. Tapi kalau momentum datang, bukan tidak mungkin yang sekarang cuma “numpang lewat” bisa tiba-tiba jadi rebutan.
(AnT)









