Gubernur Bali Ganti Alphard Pakai Mobil Listrik! Hemat Banget, Cuma Rp50 Ribuan Buat Ngecas
MOTORLISTRIK.COM, Jakarta – Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta mulai menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas. Langkah ini diambil sebagai komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus efisiensi biaya operasional.
Mobil Listrik vs Alphard: Lebih Hemat, Lebih Ramah Lingkungan
Biasanya, pejabat menggunakan Alphard sebagai kendaraan dinas. Namun, kali ini Gubernur Bali memilih mobil listrik BYD Seal yang dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
- Harga lebih murah. Jika Alphard bisa mencapai miliaran rupiah, mobil listrik ini hanya sekitar Rp600 jutaan.
- Irit biaya operasional. Jika perjalanan Jembrana-Denpasar menggunakan bensin bisa menghabiskan Rp300 ribu, kini hanya butuh Rp50 ribu untuk mengisi daya baterai.
Menurut Wayan Koster, penggunaan mobil listrik jauh lebih efisien dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.
“Ini lebih murah dari Alphard. Tidak perlu ganti oli, tidak perlu sering ke bengkel. Pokoknya jauh lebih hemat,” ujar Koster.
Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta juga menyoroti penghematan yang bisa didapatkan dari penggunaan mobil listrik.
“Kalau dulu dalam sebulan bisa habis lebih dari Rp1 juta untuk bensin, sekarang cukup Rp150 ribu untuk mengisi daya. Jauh lebih hemat,” kata Giri Prasta.
Bali Siap Beralih ke Kendaraan Listrik
Kebijakan ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari rencana besar Bali untuk beralih ke kendaraan listrik. Gubernur Koster telah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan berbagai instansi di Bali menggunakan kendaraan listrik dalam periode 2025-2030.
“Di periode kedua ini, semua kantor pemerintahan, hotel, mal, bupati, wali kota, dan DPRD harus menggunakan kendaraan listrik,” jelas Koster.
Saat ini, beberapa kepala daerah di Bali sudah mulai menggunakan mobil hybrid. Langkah selanjutnya adalah transisi penuh ke kendaraan listrik.
Tantangan: Infrastruktur SPKLU Masih Terbatas
Meskipun penggunaan kendaraan listrik semakin digalakkan, ada tantangan yang masih harus dihadapi, yaitu ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Saat ini, jumlah SPKLU di Bali masih terbatas, sehingga pemerintah bekerja sama dengan PLN untuk memperbanyak titik pengisian daya.
Kesimpulan: Bali Menuju Masa Depan yang Lebih Hijau
Penggunaan mobil listrik bukan hanya sekadar tren, tetapi juga solusi nyata untuk menghemat biaya operasional dan menjaga lingkungan. Dengan kebijakan ini, Bali berpotensi menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya transisi ke kendaraan ramah lingkungan.
Jika pejabat sudah mulai beralih ke mobil listrik, mungkin ini saatnya masyarakat juga mempertimbangkan langkah serupa. (Ant) (Foto: Rizki Setyo/detikBali)









